Virus Belanda di Peringatan Suro

Oleh : Ki Ageng Jatinom
Di akhir Abad XV terjadi kudeta di Majapahit. Sri Prabu Kertabhumi, Raja Majapahit saat itu dikudeta oleh Raja kediri, Prabu Girindrawardhana. Melihat terjadinya perubahan politik yang tidak sehat ini, salah seorang putera Prabu Kertabhumi, Raden Fattah yang saat itu menjabat sebagai adipati Demak tertantang untuk menuntut bela. Maka dengan segera Raden Fattah mengirimkan prajuritnya untuk mengambil hak mahkota yang dirampas oleh Girindrawardhana. Dan akhirnya, mahkota Majapahit berhasil direbutnya kembali. Selanjutnya, mulai saat itu Raden Fattah menjadi Raja Jawa dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar Al Fattah Senopati Jimbun Khalifah Rasulillah.Memang, dengan kemenangan Raden Fattah atas Girindrawardhana ini Jawa kembali diperintah oleh Rajasa Wangsa/Dinasti Rajasa/Dinasti Ken Arok. Hanya saja,
terjadi perubahan besar-besaran dalam lapangan kebudayaan Jawa. Kebudayaan Jawa yang sebelumnya kental dengan nuansa Hindu-Budha mengalami Revolusi menjadi kebudayaan dengan sendi-sendi Islam. Hal ini seiring dengan meluasnya Islam di masyarakat Jawa, termasuk di kalangan kerabat raja Majapahit. Para pangeran Majapahit, seperti Raden Batoro Katong, Raden Samudra, Raden Lembu Peteng, Raden Dalenisodo sudah memeluk Islam. Sementara kerabat Majapahit yang masih tetap dalam kehinduannya menyingkir ke Bali. Di sana mereka mendirikan kerajaan Klungkung di mana kebudayaan Majapahit mereka lestarikan hingga saat ini. Berikut ini beberapa contoh wujud Islam tersebut dalam kebudayaan Jawa.1. Penghapusan kasta. Sejak kedatangan Islam, Kasta yang sebelumnya kental dalam masyarakat Jawa dihapuskan dan diganti dengan kehidupan yang sejajar sesuai dengan prinsip Islam. Sementara di Bali sebagai pewaris kebudayaan Jawa Hindu, sistem kasta tetap eksis hingga saat ini. Nama-nama Cokorda, Ida bagus( brahmana), I Gusti(Ksatria), dan lain lain masih eksis hingga saat ini dengan seluruh aturan sosialnya sebagaimana pada masa Majapahit2. Tata cara berpakaian. Kebiasaan dalam masyarakat Hindu Majapahit adalah memakai sanggul di kepala untuk kaum pria dan memanjangkan rambutnya. Ketika Islam mewarnai Jawa, penggunaan sanggul untuk pria ini ditinggalkan. Sebagai gantinya, kaum pria Jawa memotong pendek rambutnya, sebagaimana dilakukan oleh Sultan Agung dan memakai “serban” khas Jawa yang kemudian kita kenal dengan Blangkon/udeng. Di kalangan istana Jawa, para pembesar memakai kuluk yang dahulu pada dasarnya merupakan tiruan dari tarbus, topi khas Turki yang saat itu merupakan tempat bersemayambya Khalifah Islam sebagai pemimpin politik Islam sedunia. Pada masa Sultan Agung, sebagaimana dikutip De Graff, tentara Mataram dikenal dengan kopyah putih di kepalanya sebagai simbul ketaatan kepada Islam. Sementara untuk pakaian wanita, jika sebelumnya wanita Hindu tidak menutup payudaranya sebagaimana di Bali sebelum tahun 1900 atau sebagaimana patung Ratu Tribuwana Tunggadewi, maka di Jawa pada masa Islam kaum wanitanya sudah menutup dada. Sementara di kalangan istana, para puteri yang sudah menikah diwajibkan untuk memakai pakaian penuh/kebaya sebagaimana saat ini.3. Dalam bidang politik, jika pada masa Hindu berorientasi ke Cina, dengan mengirimkan utusan/upeti kepada Kaisar, maka pada masa Islam, kerajaan Jawa berorientasi ke pusat Islam di Timur Tengah. Hal ini nampak pada permohonan Sultan Agung kepada gubernur Khalifah Turki di Makkah, Sharif Zaid agar menganugerahkan gelar Sultan pada tahun 1641. Sharif Zaid kemudian memberi Raja Mataram ini gelar Sultan Abdullah Maulana Matarami.
Islam sebagai sumber energi perjuangan Ketika Belanda memasuki Jawa, maka Islam selama ratusan tahun menjadi sumber energi perlawanan di Jawa. Ketika Sultan Agung menyadari bahwa ia menghadapi model perang baru, maka pada tahun 1643 ia berusaha menjalin hubungan dengan Khalifah Islam Istanbul sebagai pelindung kaum Muslimin dunia. Namun kapal yang mengangkut utusan ini dicegat Belanda di Batavia hingga upaya tersebut gagal. Selanjutnya, selama ratusan tahun kemudian berbagai perlawanan di Jawa selalu didinspirasikan oleh semangat Islam, yaitu keharaman untuk tunduk kepada orang kafir. Hampir setiap perjuangan perlawanan di Jawa memiliki otak dari kalangan ulama. Misalnya Untung Suropati yang didampingi Kiai Embun, Pangeran Sambernyowo yang didampingi oleh Kiai Nuriman, Pangeran Mangkubumi didampingi oleh Kiai Ibrahim atau Pangeran Diponegoro yang didampingi oleh Kiai Mojo. Bahkan para pemimpin perjuangan pada umumnya bukan hanya memiliki kapasitas keprajuritan. Namun jugamemiliki kapasitas keulamaan. Pangeran Sambernyowo misalnya. Di tengah situasi peperangan masih sempat menulis mushaf Al Qur’an dengan tangan beliau dan dari ingatan beliau. Ini artinya beliau adalah seorang hafidz/penghafal Al Qur’an. Membaca fenomena ini, maka agar semangat perlawanan rakyat padam, Belanda membuat berbagai kebijakan sebagai berikut,1. Berusaha memisahkan Keraton Jawa dan Kebudayaan Jawa dari Islam. Keraton Jawa sebisa mungkin dihubungkan dengan semangat pra-Islam ( Hindu Majapahit). Antusiasme Rafles dalam merestorasi Borobudur yang sebelumnya diterlantarkan oleh pemerintah Mataram dapat kita pahami dari sudut pandang ini. Bahkan di Mataram/Yogya saat itu ada larangan untuk mengunjungi Borobudur yang barangkali merupakan upaya para Sultan/Sunan Mataram agar keturunannya tidak lagi “berpaling ke belakang”. Termasuk dalam kebikajan ini adalah memisahkan Keraton Jawa/bangsawan dari Ulama dan Pesantren dan semaksimal mungkin meng”Eropa”kan mereka. Hingga kemudian warna Belanda dan anti Islam masuk dan memberikan pengaruh kuat di keraton Jawa/Mataram. Maka tak heran jika pada era akhir abad XIX muncul karya-karya sampah yang mendeskreditkan Islam, seperti Darmogandhul atau Gatholoco. Semua ini bagian dari disain Belanda untuk menjauhkan masyarakat Jawa dari semangat Islam.2. Mengisolasi Mataram dari dunia Islam, bangsa Arab terlebih lagi dari Kekhalifahan Turki yang sedang menggelorakan Pan Islam(persatuan Islam sedunia). Bahkan kalau perlu menghambat sebisa mungkin orang Jawa dari menunaikan Ibadah haji. Sebab hal ini akan kembali memompa semangat rakyat untuk melawan Belanda ( Lihat, Advies Snouck Hurgronje kepada Gubernur Jenderal tlgl. 8 Juli 1904) .
Deviasi peringatan Muharram/Suro Salah satu contoh yang berhasil dari politik Belanda adalah pembelokkan makna peringatan Suro/Muharram. Berbagai seremonial di bulan Suro sebenarnya adalah bentuk nyata peradaban Islam di Jawa. Sebab peringatan ini belum ada pada masa Majapahit. Bahkan di Bali sebagai wujud terkini kbudayaan Majapahit, peringatan Suro tidak dikenal. Nama sebenarnya bulan Suro adalah bulan Muharram. Pada masa Sultan Agung, nama Muharram tidak dipopulerkan. Sebagai gantinya adalah nama Suro. Kata Suro tersebut berasal dari kara ‘Asyuro yang berarti tanggal 10 (Muharram). Mengapa harus tanggal sepuluh yang menjadi perhatian ? Ya, karena pada tanggal tersebut, salah seorang cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husain putera Fatimah binti Muhammad SAW memimpin sebuah peperangan bersama 80 keluarganya melawan 4000 tentara rezim dzalim, Yazid bin Mu’awiyah, penguasa Arab saat itu dii Karbala, Iraq. Walaupun hampir seluruh keluarga Nabi Muhammad SAW habis dibantai dalam peristiwa Karbala, namun jalannya pertempuran sedemikian dahsyat, sekaligus memilukan sehingga menjadi kenangan masyarakat muslim di berbagai negara, khususnya komunitas Syiah. Hinga saat ini, peristiwa Karbala menjadi even penting kaum Syiah, baik di Iran, Iraq, Pakistan dan lain-lain.Di Jawa, walaupun bukan muslim Syiah, namun para penguasa Mataram menjadikan 1 Suro sebagai momen ekspresi kecintaan kepada keluarga Nabi Muhammad SAW. Karena itulah, dalam setiap even peringatan Suro, Kraton Jawa mengeluarkan prajurit dan persenjataannya mengelilingi kota dengan diam ( poso bisu). Sementara di kalangan masyarakat umum, mereka sibuk mencuci senjata, seperti keris dan tombak. Ini merupakan prosesi duka atas kewafatan Imam Husain bin Ali sekaligus ungkapan kesiapan Muslim Jawa untuk bertempur membela keluarga Nabi Muhammad SAW dan menegakkan keadilan. Kalau zaman sekarang mungkin bisa disamakan dengan parade militer. Wujud lain dari dalamnya duka cita itu adalah bahwa muslim jawa memandang pernikahan di bulan Muharram sebagai ketidak patutan dan kekurang ajaran. Bukankah bulan Suro bulan di bantainya keluarga Nabi Muhammad SAW. Bagaimana mungkin di bulan ini seorang muslim bergembira ria dan berpesta dengan melaksanakan pernikahan ?Namun kemudian Belanda mengkhawatirkan prosesi Suro di atas. Sebab prosesi di atas memiliki nilai yang sangat Islamis, Revolosioner dan bahkan Jihadis. Dan sudah tentu, ini menjadi ancaman laten bagi eksistensi imperialis mereka.Karena itulah, Belanda berusaha membelokkan peringatan tersebut dan menjauhkannya dari makna yang sebenarnya. Misalnya dengan menyebarkan isu ( melalui anteknya ) bahwa pada bulan Suro Nyai Roro Kidul mantu. Karena itu orang Jawa dilarang melangsungkan pernikahan dibulan ini agar tidak kena murka sang nyai. Salah satu bentuk pembelokan oleh Belanda terhadap peringatan 1 Suro adalah dengan menempatkan Kerbau Bule sebagai cucuk lampah/pembuka barisan upacara Suro, suatu hal yang tidak pernah ada pada masa Sultan Agung maupun penguasa-penguasa mataram sesudahnya. Kerbau bule sendiri baru ada kira-kira pada masa Paku Buwono II/PB II( 1711-1749). Kita tahu, bahwa PB II adalah Raja Jawa yang paling lemah dan paling konyol. Bahkan ketika menjelang wafat, PB II menyerahkan Mataram 100% kepada Belanda.Jika kita jeli, penempatan Kerbau Bule tersebut merupakan simbolisasi keangkuhan kaum kolonialis. Secara tersirat, penempatan kerbau bule tersebut merupakan pernyataan bahwa ras bule merupakan ras superior. Karena itu, kerbau pun andaikan bule harus dimuliakan. Apalagi manusia bule. Ras manusia bule adalah ras terpilih yang harus dijunjung tinggi oleh orang Jawa. Ini adalah sebuah tipu daya lembut dri Belanda untuk terus-menerus ngangkangi P.Jawa. Karena itulah, sudah saatnya peringatan Suronan dikembalikan kepada nilai asalnya sebagaimana para leluhur kita telah menggariskan. Ini sekaligus membersihkan even Suro dari virus-virus yang disebarkan oleh Belanda yang masih ada hingga sekarang.
-wallahu'alam-

0 komentar:

Posting Komentar